Sebuah Catatan Pendakian Gunung Papandayan
Sudah lama tidak mendaki tiba-tiba ingat masa-masa dulu naik gunung, langsung terbawa suasana deh, hehe.
Papandayan salah satunya, gunung yang pernah saya daki, gunung ini terbilang cukup populer dikalangan para pendaki dari dalam dan luar negeri, menurut kabar yang beredar kalau hari libur, gunung ini biasanya ramai dikunjungi para pendaki, banyak para pendaki datang kesana untuk mengisi waktu liburan mereka.
Ngomong - ngomong soal Papandayan, saya sudah dua kali mendaki gunung ini, nah ini adalah kisah perjalanan pendakian pertama saya, bersama dua teman saya, bagi saya pendakian ini terbilang " sangat keren " kenapa bisa begitu? Karena kami bertiga sama sekali belum pernah naik Papandayan waktu itu, jadi ini merupakan pengalaman perdana kami bertiga mendaki Gunung Papandayan.
Sebelum berangkat saya tanya-tanya teman yang pernah naik kesana terlebih dahulu, kalau kata mereka jalur pendakiannya tidak terlalu ekstrim dan gunungnya memiliki banyak lokasi tempat menyaksikan pemandangan yang indah. Tanpa pikir panjang kami bertiga pun memutuskan untuk berangkat menuju Garut.
Perjalanan dimulai dari Jakarta pada hari minggu, " wah tambah keren lagi ya " disaat orang-orang pulang perjalanan dari gunung kami bertiga malah pergi naik gunung hehe, tapi tidak apa-apa yang penting masih punya waktu buat liburan.
kami bertiga memutuskan naik bis menuju garut, dari jakarta kami berangkat agak malam, karena teman saya kerja, jadi pulangnya agak sore. tetapi tidak jadi masalah buat kami, karena memang sudah haus liburan butuh refreshing pastinya, jadi kami bertiga tetap merasa senang.
Berjam-jam sudah kami diperjalanan, akhirnya sampai juga kami di Terminal Guntur kota Garut, udara dingin terasa menusuk sampai ketulang, perut kami juga sudah keroncongan, maklum karena terburu-buru kami belum sempat makan, jadi kami memutuskan makan dekat terminal sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Sambil makan kami tanya-tanya sama ibu yang jualan,kata si ibu kalau mau ke Papandayan tinggal naik angkot dari terminal Guntur ke Cisurupan,setelah dapat sedikit informasi dan perut sudah terisi kami lanjutkan perjalanan.
Jarum jam sudah menunjukan angka 1, hari minggu telah berlalu berganti senin, kami lanjutkan kembali perjalanan naik angkot menuju Cisurupan. Tidak berselang lama sampai juga kami disana, kamipun turun di Cisurupan tepatnya dekat pasar Cisurupan, disitu sudah terpampang plang Gunung Papandayan, kami yang tadinya ngantuk langsung melek, serasa tak sabar untuk mendaki.
Seturunnya kami dari angkot kami bertanya kepada orang-orang disana, akses jalan menuju pos pendakian, katanya bisa naik ojek atau naik mobil bak. Namun karena langit masih belum terang tidak ada satupun tukang ojek dan mobil bak yang mangkal, jadi kami memutuskan cari tempat istirahat sejenak, pas banget dekat sana ada masjid, kami bertiga langsung tepar di sana.
=====
Suara adzan subuh berkumandang, kami pun terbangun, lalu lekas ambil sarung dalam tas dan ikut shalat subuh berjamaah disana. Airnya dingin grgrgr., selesai shalat kami duduk di depan masjid sambil mengamati keadaan sekitar.
Langit pun mulai terang, sang matahari mulai menampakan wajahnya di iringi semerbak wangi pagi yang perlahan mulai meraksasa. Dari depan masjid terpampang pemandangan Gunung Cikuray, gunung yang menyimpan banyak cerita bagi saya, karena sebelumnya saya sudah pernah ke Garut untuk mendaki Gunung itu, sangat jelas terlihat begitu gagahnya Gunung Cikuray menjulang tinggi .
Sarapan pagi sudah, kami putuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan naik ojek menuju Camp David (Nama Pos 1 Pendakian gunung Papandayan), angin sepoi-sepoi diringi pemandangan rumah warga lalu berganti pepohonan rimbun, sepeda motor kami tumpangi terus menanjak dengan perlahan menuju tujuan utama kami " Gunung Papandayan ".
Terlihat dari kejauhan portal kendaraan dan pos disebelah kiri jalan, wah ternyata sampai juga saya di Camp David, kedatangan saya lantas disambut dengan baik oleh petugas penjaga pos. Dari pos 1 sangat jelas terlihat Puncak Gunung Papandayan, " wah sungguh indah sekali Gunung Papandayan " ucap saya dalam hati, sambil menunggu teman saya yang masih dibelakang. saya duduk didepan pos sambil mengobrol dengan penjaga pos.
Baru ngobrol sebentar tibalah kedua teman saya bersama pengemudi ojek mereka masing-masing, " Sampai juga kita bro, wih keren yah pemandangannya " Ucap seorang teman saya, lantas menurunkan tas dan bergabung mengobrol sejenak sambil merokok santai didepan pos.
Suasana pos 1 " Camp David " waktu itu terbilang sepi,karena kami tiba pada hari senin, kata para penjaga hari sabtu dan minggu kemarin lumayan ramai, " kalau sekarang sudah pada pulang a, palingan ada 2-3 tenda yang masih diatas " begitu kata petugas penjaga posnya.
Bayar ongkos ojek sudah, kami lantas diajak masuk kedalam oleh petugas untuk registrasi Pendakian didalam pos terlihat foto-foto Gunung Papandayan yang begitu mempesona, oleh petugas kami diminta menulis nama, alamat, nomor hp dibuku catatannya,lalu diberikan tiket yang waktu itu terbilang masih sangat murah, tidak sampai sepuluh ribu perorangnya.
Setelah dapat informasi yang cukup jelas dan beristirahat sejenak, kami putuskan lanjutkan perjalanan kembali dengan berjalan kaki. Jalur pendakian Gunung Papadayan memang didominasi bebatuan, karena Papandayan adalah Gunung api yang pernah meletus pada tahun 2002, jadi masih jelas terlihat tanda-tanda letusannya.
Belum sampai satu jam berjalan menanjak, disebelah kiri sudah terlihat kawah Gunung Papandayan, yang mengeluarkan asap dengan bau yang khas " bau belerang ",di dasar kawah terlihat sumber mata air panas yang berbentuk aliran, kami tak berlama - lama di dekat kawah, karena memang kami bertiga belum terbiasa sepertinya mencium bau belarang yang sangat menyengat, kamipun memutuskan untuk terus berjalan.
Jalur pendakian Gunung Papandayan dari Camp David menuju pos 2 yang biasa disebut " Guber Hut " memang terbilang masih cukup bersahabat, jalurnya terlihat jelas dan tidak terlalu ekstrim, jadi sangat cocok bagi para pendaki pemula.
Di jalur pendakian kami berpapasan oleh beberapa pengunjung, kalau saya perhatikan mereka sepertinya warga sekitar dan sekedar datang untuk foto-foto, karena mereka tidak membawa banyak bawaan, hanya pegang handphone dan tas kecil saja, beda dengan kami yang menggendong tas carrier ukuran 80 liter,pastinya membawa beban seberat itu cukup menguras tenaga kami.
Jalur pendakian di dekat kawah memang tidak terlalu banyak ditumbuhi pepohonan, setelah melawati kawah barulah mulai bertemu dengan pepohonan rindang, yang tentunya asyik untuk bersantai sejenak. Lelah sudah pasti, hari beranjak mulai siang, kami bertiga sesekali bersantai beristirahat sambil duduk menikmati pemandangan sekitar.
"Yuk jalan lagi" ucap saya. Kami pun melanjutkan kembali perjalanan.setelah sebelumnya capek menanjak jalur pendakian pun mulai menurun, kamipun menjumpai aliran sungai kecil, sejenak kami basuh wajah dengan airnya yang segar, lalu melanjutkan kembali perjalanan menuju pos 2. Setelah melawati aliran air, jalur pendakian mulai menanjak kembali, kami terus berjalan sambil sesekali bersenda gurau sambil tertawa.
Tampak dari jauh kami melihat pecahan jalur, disitu terlihat sebuah pos kecil dan ternyata itulah pos Guber hut, ada seseorang yang duduk disana, setelah saya tanya ia adalah warga sekitar, kami pun segera menanyakan jalur menuju Pondok Salada (Tempat biasanya para pendaki mendirikan tendanya sebelum menuju Hutan mati, Tegal Alun atau Puncak Gunung Papandayan), lalu pamit untuk melanjutkan kembali perjalanan.
Perjalanan menuju Pondok Salada dari pos Guber Hut didominasi oleh pepohonan sedang, kala itu cuaca mulai gerimis jadi kami mempercepat langkah kami menuju Pondok Salada. Selang 20 menit sampai juga kami di Pondok Salada, kamipun segera mencari spot yang bagus untuk mendirikan tenda.
Setelah berjalan mengelilingi Pondok Salada kamipun menemukan spot yang kami anggap cukup bagus untuk mendirikan tenda, kami memilih untuk mendirikan tenda didekat pohon rindang, karena khawatir tenda kami terbang bila membangun tenda di spot terbuka. Saat itu angin di Pondok Salada terbilang cukup kencang dan langit mulai mendung pertanda ingin turun hujan, dengan gesit kami bertiga membongkar tas dan mulai mendirikan tenda.
Cuaca awal tahun memang masih didominasi hujan juga angin kencang, untuk itu kami harus ekstra hati-hati dalam mengambil langkah, serta waspada terhadap kemungkinan hal buruk yang dapat menimpa kami sewaktu-waktu.
Benar saja hujan pun turun membasahi Pondok Salada disertai kabut tipis yang perlahan menyelimuti kami. Dingin mulai menusuk, kami bertiga lantas mengambil jaket tebal didalam tas kami dan mulai mengenakannya, sambil menunggu hujan reda kami duduk mencicipi snack yang kami telah siapkan sambil menghisap rokok.
Reda sudah hujan sore itu, saya memutuskan keluar dari tenda dan mulai menyiapkan peralatan memasak, sementara teman saya bertugas mengambil air di mata air dekat kami mendirikan tenda, cuaca dingin membuat harsat nafsu makan kami bertambah, dapur kecil-kecilan kami sudah mengebul nasi dan lauk sudah matang, kamipun makan dengan senangnya.
Selesai menikmati makanan dan menyeruput segelas kopi, saya berkeliling berjalan di Pondok salada, melihat indahnya bunga edelweiss yang masih basah oleh air hujan,hamparan hutan mati mulai tampak dari Pondok Salada yang sebelumnya samar-samar ditutupi oleh kabut.
Tak lama kemudian dua orang pendaki datang lengkap dengan jas hujan dan tongkatnya datang dari balik pepohonan datang berjalan menghampiri kami,kamipun berjabat tangan dan menyanyakan asal pendaki tersebut. Ternyata ia juga pendaki asal jakarta yang sedang berkunjung ke Papandayan, satu orang lelaki dan satunya perempuan, tak lama kemudian mereka pamit untuk mendirikan tenda tak jauh dari tenda kami.
Hari mulai menjelang sore kami pun kembali dan berencana menghabiskan waktu malam kami di Pondok Salada. asyik duduk didalam tenda tiba tiba terdengar suara langkah kaki didepan tenda kami, sayapun memutuskan keluar dari tenda, terlihat 3 orang datang menghampiri tenda kami, 2 dari mereka terlihat wajah orang asing satunya orang lokal. Setelah saya bertanya - tanyata 2 orang tersebut adalah pendaki berkewarganegaraan Francis dan yang satunya adalah warga sekitar yang bertugas sebagai guide seingat saya namanya kang Dani sementara 2 orang francis itu adalah kakak beradik, kakaknya bernama Kun dan adiknya bernama bud, kami menawarkan kopi dan teh kepada mereka sebaliknya kun pun mengeluarkan seplastik roti dari tasnya dan berbagi kepada kami, selesai mengobrol didepan tenda akhirnya merekapun berjalan pamit untuk mendirikan tenda dekat dengan tenda kami.
Wah kami tidak jadi kesepian karna ada 2 tenda didepan sana yang bermalam dengan kami, dari jauh tenda mereka terlihat mulai berdiri. lalu terlihat seorang laki laki datang menuju tenda mereka yang ternyata adalah teman kang Dani, saya lupa namanya. Kang Dani berpamit untuk turun karna ada keperluan sebentar dan nanti akan kembali lagi, teman kang Dani saat itu tidak banyak berbicara dengan karena ia bilang ia tidak bisa berbahasa inggris jadi pakai bahasa isyarat aja hehe, kang Dani lantas menitipkan kun dan bud kepada kami dan pergi meninggalkan kami.
Hari pun beranjak malam, dari tenda saya melihat Kun dan adiknya sedang duduk beralaskan rumput,saya mencoba datang mengunjungi tendanya bersama teman saya, sementara seorang teman saya memilih untuk tidur beristirahat di tenda.Setelah menyapanya saya mencoba untuk membuka obrolan dengannya, dan bertanya tentang perjalanannya. Ternyata mereka memang sedang menikmati liburan di indonesia,katanya mereka sangat senang menikmati liburan di indonesia,setelah mengunjungi Papandayan mereka berencana akan mengunjungi tempat disekitar garut yang tak kalah indahnya namun bukan Gunung katanya, tetapi pantai daerah Garut.
Puas berbincang bincang saya dan teman saya kembali ketenda, malam itu Pondok Salada kembali diguyur hujan dan anginpun bergemuruh sangat kencang kami bertigapun memutuskan untuk bertahan didalam tenda, selanjutnya beristirahat karena esok pagi kami harus melanjutkan perjalanan kembali menuju Puncak Papandayan.
=====
Saya terbangun dan mengambil senter Waktu menunjukan pukul 3.00 dini hari, hujan dan kencangnya angin sudah mereda, saya membuka resteling tenda dan berjalan keluar tenda, sontakpandangan saya menengadah ke langit, kala itu langit bertabur bintang. Tampak begitu indahnya langit Pondok Salada, saya bersyukur kala itu masih punya waktu untuk menyaksikan keagungan ciptaan tuhan yang membuat saya begitu kagumnya dan berjanji kalau suatu saat akan kembali lagi.
Hari beranjak mulai pagi, setelah bersih bersih dan shalat shubuh kamipun mulai bersiap melanjutkan perjalanan, ternyata kang Dani, kun dan bud sudah lebih dahulu bersiap siap mendaki sampai ke tegal alun lalu kembali turun, sementara 2 orang pendaki dari jakarta tidak melanjutkan pendakiannya, mereka memutuskan untuk kembali turun kembali karena katanya khawatir cuaca di atas tidak bersahabat.
Kami masih sibuk memasak dan mengemasi barang bawaan kami, sementara Kang Dani, Kun dan Bud, terlihat sudah berjalan mendaki tak lama kemudian 2 pendaki asal jakarta berpamitan untuk turun kepada kami, sisa kami bertiga yang masih setia menemani Pondok Salada.
Setelah kami rasa kami sudah siap, kami lantas memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Puncak Papandayan. Kami berjalan agak melipir dekat aliran mata air Pondok salada, dari kejauhan terlihat hutan mati Gunung Papandayan, tempat yang akan kami lewati pastinya sebelum kami sampai ke Tegal alun dan puncak Gunung Papandayan.
Sekitar 1 jam dari Pondok Salada kami sudah sampai dihutan mati, Cuaca Papandayan pagi itu bisa dibilang kurang stabil, karena langit yang tadinya terang tiba-tiba diselimuti oleh kabut, lalu terang lagi, begitu seterusnya. Hal itu sungguh membuat pandangan kami bertiga samar-samar dan ekstra hati hati.Tak lupa kami sedikit meluangkan waktu untuk mengambil gambar di area hutan mati,berjalan- jalan dan bersantai menyeduh kopi.
Sambil berjalan menanjak, kami memperhatikan sekitar dan memastikan bahwa kami berada dalam jaur pendakian yang tepat, kami perhatikan tanda-tanda bekas pendaki, ikatan tali diranting pohon atau jejak sepatu para pendaki.
Tak lama kemudian kami mulai memasuki pepohonan rimbun dengan jalur agak menanjak, kami terus melangkah dan kami yakin kami berada dijalan yang benar.Ternyata Kang Dani, Kun dan Bud sudah dalam perjalanan turun, kata Kang Dani cuaca di Tegal Alun tidak terlalu cerah, kadang kabut datang kadang hilang.setelah berbincang sesaat kamipun bersalaman berpamitan, tak lupa kami mengabadikan foto sebagai kenang kenangan.Usai sudah Tinggal kami bertiga yang masih melanjutkan perjalanan.
Kami bertiga melanjutkan perjalanan kembali menuju Tegal Alun. Jalan menuju tegal alun lumayan ekstrim dan benar benar menguras tenaga kami. Sebelum sampai di tegal alun kami melewati pepohonan rimbun terlebih dahulu, baru menemukan plang tanda panah menuju Tegal Alun.
Wah sampai Juga Kami di tegal alun, dengan bangga dan senang kami berteriak senangnya, menyaksikan hamparan bunga edelweiss yang begitu besarnya. Saking senangnya saya berlari-lari sambil berfoto- foto di Tegal alun, memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bersenang senang.
Selesai bermain di Tegal Alun, kami bertiga duduk sejenak, lalu mencoba mencari petunjuk jalan menuju puncak.Saat itu memang ditegal alun sama sekali tidak ada orang selain kami bertiga, jadi benar-benar tidak ada tempat lagi bertanya.
Bermodalkan pengetahuan dari teman , saya seorang diri memutuskan untuk mengelilingi Tegal Alun dengan membawa peralatan seadanya, untuk menghemat tenaga saya. Ternyata cuaca memang benar- benar tidak stabil kabut turun tiba-tiba di Tegal Alun membuat jarak pandang begitu sangat terbatas, saya berjalan menelusuri Tegal alun berharap menemukan tanda ataupun petunjuk jalan menuju puncak. Setengah jam sudah saya mengitari Tegal Alun saya sama sekali tidak menemukan jalan menuju puncak. Yang saya temukan adalah jalan menurun juga jurang, sayapun memutuskan kembali menemui teman saya yang duduk menunggu saya.
Kabut ditegal alun siang itu semakin tebal, kamipun berunding untuk mencari keputusan saat itu, satu teman saya memang sangat bersih keras untuk sampai di Puncak Papandayan, namun saya mencoba meyarankan untuk kembali turun demi menghindari hal-hal buruk yang terjadi terhadap kami bertiga.
Dengan berat hati kamipun tidak melanjutkan perjalanan menuju Puncak Papandayan, dan memutuskan untuk turun dari tegal alun untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan pulang Ke Jakarta karena esok hari teman saya harus bekerja kembali.
Kami perlahan berjalan meninggalkan Tegal Alun, kami berjanji suatu hari akan kembali lagi menuju Papandayan untuk mencapai Puncaknya.
Diperjalanan turun kami menemukan jalan agak terjal memang, tepatnya di area hutan mati menuju arah kanan menurun, dengan hati-hati kami bertiga menuruni jalur tersebut. Disisi kiri kami terlihat jelas bekas longsoran yang sangat besar, sontak membuat saya merinding melihatnya. lalu tiba-tiba kami sudah sampai didekat kawah ternyata ada garis kuning bertuliskan jalur longsor, wah ternyata kami menuruni jalur yang sudah diperi peringatan larangan dilewati. kami tidak lagi melewati Pondok Salada dan Pos Guber Hut , dari hutan mati kami langsung sampai ke area dekat kawah.
Kami menang benar-benar tidak tahu kala itu karena dari hutan mati menuju kebawah tidak melihat tanda tanda larangan dan dipikiran saya berada dijalan yang benar, kami tetap melanjutkannya, kami baru menemui garis tersebut setelah sampai dibawah dekat kawah.
Kamipun melanjutkan perjalanan kami dan terus turun menuju pos awal kami mendaki yaitu Camp David, sesampainya disana kamipun melaporkan kembali kepada petugas di pos dan menumpang beristirahat dan berenang di kolam air panas dibelakang Pos Camp David.
Selesai sudah kami meluangkan waktu di Camp David kamipun pamit lalu pulang bersama tukang ojek yang sudah saya minta nomor hpnya saat awal pendakian menuju pasar cisurupan, sebelum akhirnya kembali lagi ke terminal Guntur dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Kami pulang bersama harapan dan janji, harapan serta janji untuk kembali lagi ke Gunung Papandayan dan sampai ke Puncak Gunung Papandayan.
Selesai........
Di tahun berikutnya saya memutuskan untuk kembali ke Gunung Papandayan, membawa segenggam harapan dan janji yang belum terpenuhi...
Akhirnya sampai juga saya dipuncaknya.
Papandayan salah satunya, gunung yang pernah saya daki, gunung ini terbilang cukup populer dikalangan para pendaki dari dalam dan luar negeri, menurut kabar yang beredar kalau hari libur, gunung ini biasanya ramai dikunjungi para pendaki, banyak para pendaki datang kesana untuk mengisi waktu liburan mereka.
Ngomong - ngomong soal Papandayan, saya sudah dua kali mendaki gunung ini, nah ini adalah kisah perjalanan pendakian pertama saya, bersama dua teman saya, bagi saya pendakian ini terbilang " sangat keren " kenapa bisa begitu? Karena kami bertiga sama sekali belum pernah naik Papandayan waktu itu, jadi ini merupakan pengalaman perdana kami bertiga mendaki Gunung Papandayan.
Sebelum berangkat saya tanya-tanya teman yang pernah naik kesana terlebih dahulu, kalau kata mereka jalur pendakiannya tidak terlalu ekstrim dan gunungnya memiliki banyak lokasi tempat menyaksikan pemandangan yang indah. Tanpa pikir panjang kami bertiga pun memutuskan untuk berangkat menuju Garut.
Perjalanan dimulai dari Jakarta pada hari minggu, " wah tambah keren lagi ya " disaat orang-orang pulang perjalanan dari gunung kami bertiga malah pergi naik gunung hehe, tapi tidak apa-apa yang penting masih punya waktu buat liburan.
kami bertiga memutuskan naik bis menuju garut, dari jakarta kami berangkat agak malam, karena teman saya kerja, jadi pulangnya agak sore. tetapi tidak jadi masalah buat kami, karena memang sudah haus liburan butuh refreshing pastinya, jadi kami bertiga tetap merasa senang.
Berjam-jam sudah kami diperjalanan, akhirnya sampai juga kami di Terminal Guntur kota Garut, udara dingin terasa menusuk sampai ketulang, perut kami juga sudah keroncongan, maklum karena terburu-buru kami belum sempat makan, jadi kami memutuskan makan dekat terminal sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Sambil makan kami tanya-tanya sama ibu yang jualan,kata si ibu kalau mau ke Papandayan tinggal naik angkot dari terminal Guntur ke Cisurupan,setelah dapat sedikit informasi dan perut sudah terisi kami lanjutkan perjalanan.
Jarum jam sudah menunjukan angka 1, hari minggu telah berlalu berganti senin, kami lanjutkan kembali perjalanan naik angkot menuju Cisurupan. Tidak berselang lama sampai juga kami disana, kamipun turun di Cisurupan tepatnya dekat pasar Cisurupan, disitu sudah terpampang plang Gunung Papandayan, kami yang tadinya ngantuk langsung melek, serasa tak sabar untuk mendaki.
Seturunnya kami dari angkot kami bertanya kepada orang-orang disana, akses jalan menuju pos pendakian, katanya bisa naik ojek atau naik mobil bak. Namun karena langit masih belum terang tidak ada satupun tukang ojek dan mobil bak yang mangkal, jadi kami memutuskan cari tempat istirahat sejenak, pas banget dekat sana ada masjid, kami bertiga langsung tepar di sana.
=====
Suara adzan subuh berkumandang, kami pun terbangun, lalu lekas ambil sarung dalam tas dan ikut shalat subuh berjamaah disana. Airnya dingin grgrgr., selesai shalat kami duduk di depan masjid sambil mengamati keadaan sekitar.
Langit pun mulai terang, sang matahari mulai menampakan wajahnya di iringi semerbak wangi pagi yang perlahan mulai meraksasa. Dari depan masjid terpampang pemandangan Gunung Cikuray, gunung yang menyimpan banyak cerita bagi saya, karena sebelumnya saya sudah pernah ke Garut untuk mendaki Gunung itu, sangat jelas terlihat begitu gagahnya Gunung Cikuray menjulang tinggi .
Sarapan pagi sudah, kami putuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan naik ojek menuju Camp David (Nama Pos 1 Pendakian gunung Papandayan), angin sepoi-sepoi diringi pemandangan rumah warga lalu berganti pepohonan rimbun, sepeda motor kami tumpangi terus menanjak dengan perlahan menuju tujuan utama kami " Gunung Papandayan ".
Terlihat dari kejauhan portal kendaraan dan pos disebelah kiri jalan, wah ternyata sampai juga saya di Camp David, kedatangan saya lantas disambut dengan baik oleh petugas penjaga pos. Dari pos 1 sangat jelas terlihat Puncak Gunung Papandayan, " wah sungguh indah sekali Gunung Papandayan " ucap saya dalam hati, sambil menunggu teman saya yang masih dibelakang. saya duduk didepan pos sambil mengobrol dengan penjaga pos.
Baru ngobrol sebentar tibalah kedua teman saya bersama pengemudi ojek mereka masing-masing, " Sampai juga kita bro, wih keren yah pemandangannya " Ucap seorang teman saya, lantas menurunkan tas dan bergabung mengobrol sejenak sambil merokok santai didepan pos.
Suasana pos 1 " Camp David " waktu itu terbilang sepi,karena kami tiba pada hari senin, kata para penjaga hari sabtu dan minggu kemarin lumayan ramai, " kalau sekarang sudah pada pulang a, palingan ada 2-3 tenda yang masih diatas " begitu kata petugas penjaga posnya.
Bayar ongkos ojek sudah, kami lantas diajak masuk kedalam oleh petugas untuk registrasi Pendakian didalam pos terlihat foto-foto Gunung Papandayan yang begitu mempesona, oleh petugas kami diminta menulis nama, alamat, nomor hp dibuku catatannya,lalu diberikan tiket yang waktu itu terbilang masih sangat murah, tidak sampai sepuluh ribu perorangnya.
Setelah dapat informasi yang cukup jelas dan beristirahat sejenak, kami putuskan lanjutkan perjalanan kembali dengan berjalan kaki. Jalur pendakian Gunung Papadayan memang didominasi bebatuan, karena Papandayan adalah Gunung api yang pernah meletus pada tahun 2002, jadi masih jelas terlihat tanda-tanda letusannya.
Belum sampai satu jam berjalan menanjak, disebelah kiri sudah terlihat kawah Gunung Papandayan, yang mengeluarkan asap dengan bau yang khas " bau belerang ",di dasar kawah terlihat sumber mata air panas yang berbentuk aliran, kami tak berlama - lama di dekat kawah, karena memang kami bertiga belum terbiasa sepertinya mencium bau belarang yang sangat menyengat, kamipun memutuskan untuk terus berjalan.
Jalur pendakian Gunung Papandayan dari Camp David menuju pos 2 yang biasa disebut " Guber Hut " memang terbilang masih cukup bersahabat, jalurnya terlihat jelas dan tidak terlalu ekstrim, jadi sangat cocok bagi para pendaki pemula.
Di jalur pendakian kami berpapasan oleh beberapa pengunjung, kalau saya perhatikan mereka sepertinya warga sekitar dan sekedar datang untuk foto-foto, karena mereka tidak membawa banyak bawaan, hanya pegang handphone dan tas kecil saja, beda dengan kami yang menggendong tas carrier ukuran 80 liter,pastinya membawa beban seberat itu cukup menguras tenaga kami.
Jalur pendakian di dekat kawah memang tidak terlalu banyak ditumbuhi pepohonan, setelah melawati kawah barulah mulai bertemu dengan pepohonan rindang, yang tentunya asyik untuk bersantai sejenak. Lelah sudah pasti, hari beranjak mulai siang, kami bertiga sesekali bersantai beristirahat sambil duduk menikmati pemandangan sekitar.
![]() |
| Jalur pendakian Gunung Papandayan |
"Yuk jalan lagi" ucap saya. Kami pun melanjutkan kembali perjalanan.setelah sebelumnya capek menanjak jalur pendakian pun mulai menurun, kamipun menjumpai aliran sungai kecil, sejenak kami basuh wajah dengan airnya yang segar, lalu melanjutkan kembali perjalanan menuju pos 2. Setelah melawati aliran air, jalur pendakian mulai menanjak kembali, kami terus berjalan sambil sesekali bersenda gurau sambil tertawa.
Tampak dari jauh kami melihat pecahan jalur, disitu terlihat sebuah pos kecil dan ternyata itulah pos Guber hut, ada seseorang yang duduk disana, setelah saya tanya ia adalah warga sekitar, kami pun segera menanyakan jalur menuju Pondok Salada (Tempat biasanya para pendaki mendirikan tendanya sebelum menuju Hutan mati, Tegal Alun atau Puncak Gunung Papandayan), lalu pamit untuk melanjutkan kembali perjalanan.
Perjalanan menuju Pondok Salada dari pos Guber Hut didominasi oleh pepohonan sedang, kala itu cuaca mulai gerimis jadi kami mempercepat langkah kami menuju Pondok Salada. Selang 20 menit sampai juga kami di Pondok Salada, kamipun segera mencari spot yang bagus untuk mendirikan tenda.
Setelah berjalan mengelilingi Pondok Salada kamipun menemukan spot yang kami anggap cukup bagus untuk mendirikan tenda, kami memilih untuk mendirikan tenda didekat pohon rindang, karena khawatir tenda kami terbang bila membangun tenda di spot terbuka. Saat itu angin di Pondok Salada terbilang cukup kencang dan langit mulai mendung pertanda ingin turun hujan, dengan gesit kami bertiga membongkar tas dan mulai mendirikan tenda.
Cuaca awal tahun memang masih didominasi hujan juga angin kencang, untuk itu kami harus ekstra hati-hati dalam mengambil langkah, serta waspada terhadap kemungkinan hal buruk yang dapat menimpa kami sewaktu-waktu.
Benar saja hujan pun turun membasahi Pondok Salada disertai kabut tipis yang perlahan menyelimuti kami. Dingin mulai menusuk, kami bertiga lantas mengambil jaket tebal didalam tas kami dan mulai mengenakannya, sambil menunggu hujan reda kami duduk mencicipi snack yang kami telah siapkan sambil menghisap rokok.
Reda sudah hujan sore itu, saya memutuskan keluar dari tenda dan mulai menyiapkan peralatan memasak, sementara teman saya bertugas mengambil air di mata air dekat kami mendirikan tenda, cuaca dingin membuat harsat nafsu makan kami bertambah, dapur kecil-kecilan kami sudah mengebul nasi dan lauk sudah matang, kamipun makan dengan senangnya.
Selesai menikmati makanan dan menyeruput segelas kopi, saya berkeliling berjalan di Pondok salada, melihat indahnya bunga edelweiss yang masih basah oleh air hujan,hamparan hutan mati mulai tampak dari Pondok Salada yang sebelumnya samar-samar ditutupi oleh kabut.
Tak lama kemudian dua orang pendaki datang lengkap dengan jas hujan dan tongkatnya datang dari balik pepohonan datang berjalan menghampiri kami,kamipun berjabat tangan dan menyanyakan asal pendaki tersebut. Ternyata ia juga pendaki asal jakarta yang sedang berkunjung ke Papandayan, satu orang lelaki dan satunya perempuan, tak lama kemudian mereka pamit untuk mendirikan tenda tak jauh dari tenda kami.
Hari mulai menjelang sore kami pun kembali dan berencana menghabiskan waktu malam kami di Pondok Salada. asyik duduk didalam tenda tiba tiba terdengar suara langkah kaki didepan tenda kami, sayapun memutuskan keluar dari tenda, terlihat 3 orang datang menghampiri tenda kami, 2 dari mereka terlihat wajah orang asing satunya orang lokal. Setelah saya bertanya - tanyata 2 orang tersebut adalah pendaki berkewarganegaraan Francis dan yang satunya adalah warga sekitar yang bertugas sebagai guide seingat saya namanya kang Dani sementara 2 orang francis itu adalah kakak beradik, kakaknya bernama Kun dan adiknya bernama bud, kami menawarkan kopi dan teh kepada mereka sebaliknya kun pun mengeluarkan seplastik roti dari tasnya dan berbagi kepada kami, selesai mengobrol didepan tenda akhirnya merekapun berjalan pamit untuk mendirikan tenda dekat dengan tenda kami.
Wah kami tidak jadi kesepian karna ada 2 tenda didepan sana yang bermalam dengan kami, dari jauh tenda mereka terlihat mulai berdiri. lalu terlihat seorang laki laki datang menuju tenda mereka yang ternyata adalah teman kang Dani, saya lupa namanya. Kang Dani berpamit untuk turun karna ada keperluan sebentar dan nanti akan kembali lagi, teman kang Dani saat itu tidak banyak berbicara dengan karena ia bilang ia tidak bisa berbahasa inggris jadi pakai bahasa isyarat aja hehe, kang Dani lantas menitipkan kun dan bud kepada kami dan pergi meninggalkan kami.
Hari pun beranjak malam, dari tenda saya melihat Kun dan adiknya sedang duduk beralaskan rumput,saya mencoba datang mengunjungi tendanya bersama teman saya, sementara seorang teman saya memilih untuk tidur beristirahat di tenda.Setelah menyapanya saya mencoba untuk membuka obrolan dengannya, dan bertanya tentang perjalanannya. Ternyata mereka memang sedang menikmati liburan di indonesia,katanya mereka sangat senang menikmati liburan di indonesia,setelah mengunjungi Papandayan mereka berencana akan mengunjungi tempat disekitar garut yang tak kalah indahnya namun bukan Gunung katanya, tetapi pantai daerah Garut.
Puas berbincang bincang saya dan teman saya kembali ketenda, malam itu Pondok Salada kembali diguyur hujan dan anginpun bergemuruh sangat kencang kami bertigapun memutuskan untuk bertahan didalam tenda, selanjutnya beristirahat karena esok pagi kami harus melanjutkan perjalanan kembali menuju Puncak Papandayan.
=====
Saya terbangun dan mengambil senter Waktu menunjukan pukul 3.00 dini hari, hujan dan kencangnya angin sudah mereda, saya membuka resteling tenda dan berjalan keluar tenda, sontakpandangan saya menengadah ke langit, kala itu langit bertabur bintang. Tampak begitu indahnya langit Pondok Salada, saya bersyukur kala itu masih punya waktu untuk menyaksikan keagungan ciptaan tuhan yang membuat saya begitu kagumnya dan berjanji kalau suatu saat akan kembali lagi.
Hari beranjak mulai pagi, setelah bersih bersih dan shalat shubuh kamipun mulai bersiap melanjutkan perjalanan, ternyata kang Dani, kun dan bud sudah lebih dahulu bersiap siap mendaki sampai ke tegal alun lalu kembali turun, sementara 2 orang pendaki dari jakarta tidak melanjutkan pendakiannya, mereka memutuskan untuk kembali turun kembali karena katanya khawatir cuaca di atas tidak bersahabat.
Kami masih sibuk memasak dan mengemasi barang bawaan kami, sementara Kang Dani, Kun dan Bud, terlihat sudah berjalan mendaki tak lama kemudian 2 pendaki asal jakarta berpamitan untuk turun kepada kami, sisa kami bertiga yang masih setia menemani Pondok Salada.
Setelah kami rasa kami sudah siap, kami lantas memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Puncak Papandayan. Kami berjalan agak melipir dekat aliran mata air Pondok salada, dari kejauhan terlihat hutan mati Gunung Papandayan, tempat yang akan kami lewati pastinya sebelum kami sampai ke Tegal alun dan puncak Gunung Papandayan.
Sekitar 1 jam dari Pondok Salada kami sudah sampai dihutan mati, Cuaca Papandayan pagi itu bisa dibilang kurang stabil, karena langit yang tadinya terang tiba-tiba diselimuti oleh kabut, lalu terang lagi, begitu seterusnya. Hal itu sungguh membuat pandangan kami bertiga samar-samar dan ekstra hati hati.Tak lupa kami sedikit meluangkan waktu untuk mengambil gambar di area hutan mati,berjalan- jalan dan bersantai menyeduh kopi.
![]() |
| Hutan Mati Gunung Papandayan |
Sambil berjalan menanjak, kami memperhatikan sekitar dan memastikan bahwa kami berada dalam jaur pendakian yang tepat, kami perhatikan tanda-tanda bekas pendaki, ikatan tali diranting pohon atau jejak sepatu para pendaki.
Tak lama kemudian kami mulai memasuki pepohonan rimbun dengan jalur agak menanjak, kami terus melangkah dan kami yakin kami berada dijalan yang benar.Ternyata Kang Dani, Kun dan Bud sudah dalam perjalanan turun, kata Kang Dani cuaca di Tegal Alun tidak terlalu cerah, kadang kabut datang kadang hilang.setelah berbincang sesaat kamipun bersalaman berpamitan, tak lupa kami mengabadikan foto sebagai kenang kenangan.Usai sudah Tinggal kami bertiga yang masih melanjutkan perjalanan.
![]() |
| Jalur Pendakian Dari Hutan Mati Menuju Tegal Alun |
Wah sampai Juga Kami di tegal alun, dengan bangga dan senang kami berteriak senangnya, menyaksikan hamparan bunga edelweiss yang begitu besarnya. Saking senangnya saya berlari-lari sambil berfoto- foto di Tegal alun, memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bersenang senang.
Selesai bermain di Tegal Alun, kami bertiga duduk sejenak, lalu mencoba mencari petunjuk jalan menuju puncak.Saat itu memang ditegal alun sama sekali tidak ada orang selain kami bertiga, jadi benar-benar tidak ada tempat lagi bertanya.
Bermodalkan pengetahuan dari teman , saya seorang diri memutuskan untuk mengelilingi Tegal Alun dengan membawa peralatan seadanya, untuk menghemat tenaga saya. Ternyata cuaca memang benar- benar tidak stabil kabut turun tiba-tiba di Tegal Alun membuat jarak pandang begitu sangat terbatas, saya berjalan menelusuri Tegal alun berharap menemukan tanda ataupun petunjuk jalan menuju puncak. Setengah jam sudah saya mengitari Tegal Alun saya sama sekali tidak menemukan jalan menuju puncak. Yang saya temukan adalah jalan menurun juga jurang, sayapun memutuskan kembali menemui teman saya yang duduk menunggu saya.
![]() |
| Tegal Alun Gunung Papandayan |
Dengan berat hati kamipun tidak melanjutkan perjalanan menuju Puncak Papandayan, dan memutuskan untuk turun dari tegal alun untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan pulang Ke Jakarta karena esok hari teman saya harus bekerja kembali.
Kami perlahan berjalan meninggalkan Tegal Alun, kami berjanji suatu hari akan kembali lagi menuju Papandayan untuk mencapai Puncaknya.
Diperjalanan turun kami menemukan jalan agak terjal memang, tepatnya di area hutan mati menuju arah kanan menurun, dengan hati-hati kami bertiga menuruni jalur tersebut. Disisi kiri kami terlihat jelas bekas longsoran yang sangat besar, sontak membuat saya merinding melihatnya. lalu tiba-tiba kami sudah sampai didekat kawah ternyata ada garis kuning bertuliskan jalur longsor, wah ternyata kami menuruni jalur yang sudah diperi peringatan larangan dilewati. kami tidak lagi melewati Pondok Salada dan Pos Guber Hut , dari hutan mati kami langsung sampai ke area dekat kawah.
Kami menang benar-benar tidak tahu kala itu karena dari hutan mati menuju kebawah tidak melihat tanda tanda larangan dan dipikiran saya berada dijalan yang benar, kami tetap melanjutkannya, kami baru menemui garis tersebut setelah sampai dibawah dekat kawah.
Kamipun melanjutkan perjalanan kami dan terus turun menuju pos awal kami mendaki yaitu Camp David, sesampainya disana kamipun melaporkan kembali kepada petugas di pos dan menumpang beristirahat dan berenang di kolam air panas dibelakang Pos Camp David.
Selesai sudah kami meluangkan waktu di Camp David kamipun pamit lalu pulang bersama tukang ojek yang sudah saya minta nomor hpnya saat awal pendakian menuju pasar cisurupan, sebelum akhirnya kembali lagi ke terminal Guntur dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Kami pulang bersama harapan dan janji, harapan serta janji untuk kembali lagi ke Gunung Papandayan dan sampai ke Puncak Gunung Papandayan.
Selesai........
Di tahun berikutnya saya memutuskan untuk kembali ke Gunung Papandayan, membawa segenggam harapan dan janji yang belum terpenuhi...
Akhirnya sampai juga saya dipuncaknya.
![]() | |||
| Puncak Bayangan Gunung Papandayan |
![]() |
| Puncak Gunung Papandayan |







0 Response to "Sebuah Catatan Pendakian Gunung Papandayan"
Post a Comment